BANNER MEDIA KOMINFO 2026
ArtikelPendidikan

“SENI DAN DESAIN HARUS BERDAMPAK DAN BERKELANJUTAN DALAM KONTEKS LINGKUNGAN DI ERA AI”

0
×

“SENI DAN DESAIN HARUS BERDAMPAK DAN BERKELANJUTAN DALAM KONTEKS LINGKUNGAN DI ERA AI”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd (Dosen FSD UNM)

MAKASSAR – LEMKIRA.COM

Kekhawatiran tentang dominasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam dunia seni dan desain menjadi keresahan bersama yang mengemuka dalam Seminar Nasional Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema Seni Desain dan Krisis Lingkungan Dari Pesan ke Praktik Berdampak dan Berkelanjutan ini digelar di Theater Menara Pinisi Lantai Tiga UNM pada Senin dua puluh tujuh Oktober dua ribu dua puluh enam. Seminar didukung penuh oleh DIKTISAINTEK Berdampak dan BLU UNM serta dihadiri mahasiswa, peserta umum dan puluhan guru yang tergabung dalam MGMP Seni Budaya SMA dan SMK se Provinsi Sulawesi Selatan.

Kegiatan diawali dengan moderator Dr. Nurlina Syahrir, M.Hum yang sangat menyenangkan, mampu mencairkan suasana dan menghubungkan antusiasme peserta dengan tema besar seminar. Dengan gaya moderasi yang hangat dan komunikatif, Dr. Nurlina berhasil membawa jalannya seminar menjadi hidup, interaktif, dan penuh semangat sejak awal hingga akhir.

Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Makassar Dr. Arifin Manggau M.Pd yang hadir mewakili Rektor UNM. Dalam sambutannya, Dr. Arifin Manggau menyampaikan bahwa seminar ini lahir dari keresahan bersama yang kini dirasakan oleh dosen, guru, dan mahasiswa. Penggunaan AI yang semakin masif dalam proses penciptaan karya, mulai dari karya musik yang lirik, melodi hingga aransemennya banyak digarap AI, sampai karya-karya visual yang dihasilkan secara instan, telah menimbulkan pertanyaan mendasar tentang posisi manusia sebagai kreator.

Menurut Dr. Arifin, kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Ia menegaskan bahwa posisi AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreator. Oleh karena itu tema yang diusung FSD UNM sangat tepat dan sejalan dengan program DIKTISAINTEK Berdampak. Dunia seni dan desain tidak boleh berhenti pada pesan semata, tetapi harus mampu melahirkan praktik yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Pesan tentang praktik berdampak dan berkelanjutan tersebut kemudian dibedah secara mendalam oleh tiga narasumber utama yang saling melengkapi.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Julia, S.Pd M.,Pd dari Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul materi Keberlanjutan Multidimensional Dalam Seni Pertunjukan dan Festival Sebuah Tinjauan Sistematis dan Sintesis Tematik. Dalam paparannya yang berbasis riset sistematis, Prof. Julia menjelaskan bahwa selama ini keberlanjutan dalam seni pertunjukan sering dipahami secara sempit. Banyak festival yang terlihat sukses dan meriah di atas panggung, tetapi tidak berkelanjutan.

Keberlanjutan itu harus dilihat secara multidimensional. Ada keberlanjutan ekologis, ekonomi, sosial budaya, dan estetik. Banyak festival hari ini tidak berkelanjutan secara ekologis karena meninggalkan sampah yang menggunung setelah acara selesai. Tidak berkelanjutan secara ekonomi karena hanya menguntungkan penyelenggara, sementara komunitas lokal tidak mendapatkan dampak. Tidak berkelanjutan secara budaya karena justru menggerus nilai tradisi lokal.

Melalui tinjauan sistematis dan sintesis tematik terhadap berbagai festival, Prof. Julia menawarkan model festival yang berkelanjutan. Mulai dari manajemen sampah di area festival, pelibatan komunitas lokal sebagai pelaku bukan hanya penonton, penggunaan material panggung yang ramah lingkungan, hingga dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. Model ini sangat relevan untuk diadopsi oleh guru-guru MGMP Seni Budaya dalam merancang pentas seni di sekolah serta pelaku seni secara umum.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Intan Rizky Mutiaz M.Ds Ketua Asosiasi Prodi DKV Indonesia dari Institut Teknologi Bandung dengan judul materi Membaca Masa Depan DKV di Era AI. Materi ini menjadi materi yang paling menjawab keresahan tentang AI yang disampaikan oleh WR 3.

Dalam paparannya, Dr. Intan memetakan dua tantangan besar yang dihadapi DKV hari ini. Tantangan pertama adalah AI Generatif yang mengubah cara manusia menghasilkan, mendistribusikan dan mengevaluasi karya desain. Fokus AI adalah pada teknologi, otomatisasi dan produktivitas. Jika AI mampu menghasilkan desain dalam hitungan detik, maka pertanyaan kritisnya adalah apa nilai tambah seorang desainer. Resikonya adalah ketergantungan pada AI, homogenisasi visual di mana semua karya terlihat sama, dan berkurangnya daya kritis.

Tantangan kedua adalah Krisis Lingkungan yang mengingatkan bahwa kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk mempertanggungjawabkan konsekuensinya. Benang merah dari dua tantangan ini sangat tajam. AI mempertanyakan bagaimana desain diciptakan, sedangkan krisis lingkungan mempertanyakan apa konsekuensi dari desain yang diciptakan.

Karena itu, Dr. Intan menegaskan bahwa membaca masa depan DKV di era AI harus berpegang pada tiga kata kunci, yakni berdampak, relevan dan bertanggung jawab. Ia memberikan contoh nyata tentang peran baru DKV sebagai intervensi perilaku. Ia menampilkan foto-foto desain tempat sampah di luar negeri dengan sistem visual yang sangat cerdas, seperti tempat sampah dengan tulisan Dimond Only dengan ikon botol kaca dan plastik yang jelas, serta tempat sampah dengan tulisan Mixed Plastics Metal and Glass Recycling. Di sinilah peran DKV yang tidak bisa digantikan AI, yakni menghubungkan tindakan sehari-hari membuang sampah dengan konsekuensi ekologis.

Materi ketiga disampaikan oleh Prof. Sofyan Salam MA, Ph.D dari Universitas Negeri Makassar dengan judul materi “Mengembangkan Kesadaran Lingkungan Visual”. Sebagai penutup, materi Prof. Sofyan memberikan landasan psikologi lingkungan yang kuat.

Menurut Prof Sofyan, krisis lingkungan berawal dari krisis kesadaran visual. Manusia melihat alam sebagai objek untuk dieksploitasi, bukan sebagai subjek yang harus dihormati. Karena itu tugas utama pendidikan seni adalah mengembangkan kesadaran lingkungan visual yang akan melahirkan kenyamanan lingkungan. Kenyamanan lingkungan ini hanya akan terwujud jika lingkungan tersebut terdesain dengan baik.

Lingkungan yang terdesain dengan baik memiliki beberapa fungsi penting. Fungsi pertama adalah memudahkan navigasi. Desain visual yang baik membantu masyarakat mudah menemukan arah dan memahami ruang. Fungsi kedua adalah mendisiplinkan masyarakat. Melalui desain visual yang jelas seperti signage dan penanda kawasan, masyarakat diajak berperilaku tertib.

Fungsi ketiga adalah membangun identitas komunitas. Pada poin ini Prof. Sofyan memberikan contoh yang sangat membanggakan dan dekat dengan peserta seminar, yaitu Gedung Menara Pinisi UNM itu sendiri. Menurut Prof Sofyan, gedung yang sangat estetik dan ikonik ini idenya lahir dari Rektor UNM 2008-2012. Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd berhasrat menjadikan UNM “universitas kelas lokal” menjadi ” universitas kelas dunia. Gagasan pembangunan gedung pusat pelayanan akademik Univeristas Negeri Makassar terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan senat Universitas. Maka ditugaskan lah .Tim Artistik yang terbentuk masa kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Dr. H.M Idris Arief. Tim Artistik ini bertugas menerjemahkan gagasan tersebut menjadi desain agar dapat divisualisasikan dihadapan senat. Salah satu gagasan yang mengkristal dalam tudang sipulung adalah dibangunnya gedung pusat pelayanan akademik yang monumental yang dapat membangkitkan kesadaran diri dan menginspirasi civitas akademika dan bersemangat. Monumental gedung pusat pelayanan akademik yang diangankan tersebut juga sekaligus diharapkan menjadi penanda (landmark, icon) dan kebanggaan kota Makassar sehingga siapapun yang berkunjung ke kota Anging Mammiri ini merasa tidak lengkap sebelum mengabadikan dirinya berpose dilatar depannya (Menara Pinisi Sang Penanda Kota, Sofyan. S: 2016). Selanjutnya desain digarap oleh Ir. Agusalim Jirong dan dipresentasikan Prof. Sofyan Salam Ph.D, selaku ketua tim artistik Universitas Negeri Makassar. Sayembara Internasional dibuka diharapkan diperoleh desain arsitektural (Desain Skematik) yang sesuai dan diidamkan Drs Sukarman M.Sn salah satu anggota panitia yang ditugasi menyusun draf awal sayembara. Sayembara tersebut kemudian melahirkan Gedung Menara Pinisi yang sangat estetik dan membanggakan karena sangat mencirikan kearifan lokal Sulawesi Selatan. Bentuknya yang menyerupai Kapal Pinisi bukan sekadar bentuk fisik, tetapi menjadi identitas komunitas akademik UNM dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan. Setiap orang yang melihat gedung ini langsung tahu bahwa ini adalah representasi budaya maritim Bugis Makassar. Inilah contoh nyata bagaimana arah desain visual sebuah bangunan mampu membangun identitas komunitas yang kuat, berbeda dengan desain generik hasil AI yang tidak berakar.

Fungsi keempat adalah penyadaran dan pemberdayaan. Desain visual yang baik membuat masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan berdaya untuk bertindak. Fungsi kelima adalah tantangan, yakni bagaimana pendidikan seni mampu melawan budaya instan dan mengembalikan empati ekologis.

Rangkaian materi dari WR 3 UNM Dr Arifin Manggau tentang keresahan bersama dan praktik berdampak berkelanjutan, tinjauan sistematis Prof Julia, paparan Dr Intan tentang membaca masa depan DKV di era AI, hingga penegasan Prof Sofyan dengan contoh Gedung Pinisi UNM sebagai identitas komunitas, akhirnya memberikan bekal yang sangat lengkap bagi MGMP Seni Budaya SMA dan SMK untuk membawa konsep seni berdampak ke sekolah.(Red)

Makassar 29 Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *