BANNER MEDIA KOMINFO 2026
BeritaNasionalSosial

Dari Diva Kebudayaan Hingga Senator Handal: Maya Rumantir dan Peluang Mengabdi di Jajaran Eksekutif

4
×

Dari Diva Kebudayaan Hingga Senator Handal: Maya Rumantir dan Peluang Mengabdi di Jajaran Eksekutif

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Lemkira.Com

Oleh: Wilson Lalengke

Jakarta – Dalam perjalanan sebuah bangsa, kepemimpinan publik tidak semata-mata diuji oleh angka-angka pertumbuhan teknokratis atau retorika politik di atas podium. Kepemimpinan sejati berakar pada sejauh mana seorang tokoh mampu menyatukan simpul-simpul kebangsaan yang beragam, merawat kompas moral masyarakat, serta membawa harkat dan martabat Indonesia di kancah internasional.

Pada masa penataan dan penguatan tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saat ini, agenda pengisian jabatan menteri dalam kabinet menjadi krusial. Indonesia membutuhkan sosok-sosok paripurna: figur yang tak hanya memiliki kapasitas akademis dan pengalaman legislatif yang teruji, tetapi juga figur pemersatu yang dicintai masyarakat serta memiliki kepekaan rasa kemanusiaan yang mendalam.

Dalam sudut pandang ini, nama Dr. Maya Olivia Rumantir, M.A., Ph.D. – Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Sulawesi Utara, muncul sebagai kandidat yang sangat ideal dan relevan untuk mengemban amanah strategis di jajaran kabinet. Rekam jejaknya dapat dilihat secara transparan dan dinilai secara obyektif oleh semua pihak.

*Figur Pemersatu Lewat Seni dan Seni Budaya*

Maya Rumantir bukan sekadar nama dalam lanskap politik nasional; ia adalah rekam jejak dedikasi kebangsaan yang panjang. Mengawali kiprahnya sebagai diva musik pop dan seni pertunjukan Indonesia pada era 1980-an, Maya telah memenangi hati jutaan rakyat Indonesia lintas generasi, lintas suku, dan lintas agama. Lagu-lagu dan penampilan seni budaya yang dibawakannya bukan hanya hiburan visual dan audio, melainkan sarana yang mengikat rasa kebangsaan dan menumbuhkan cinta tanah air.

Seni, sebagaimana ditegaskan oleh filsuf Yunani Kuno Plato dalam karyanya _Respublica_, memiliki kekuatan fundamental untuk membentuk jiwa (_psyche_) manusia dan memelihara keharmonisan sosial dalam sebuah polis. Musik dan kebudayaan yang berorientasi pada kebaikan moral mampu menyatukan daya cipta masyarakat tanpa sekat ideologi. Dalam konteks Indonesia yang pluralistik, Maya Rumantir telah membuktikan bahwa karya seninya mampu bertindak sebagai _universal bridge_, jembatan universal yang menautkan keberagaman.

Kemampuannya merawat nilai-nilai toleransi dan kedamaian melalui pendekatan kebudayaan menjadikannya figur pemersatu (_unifying figure_) yang amat dibutuhkan untuk meredakan polarisasi sosial yang sering kali mengancam keutuhan nasional. Bahkan dalam situasi konflik yang memanas pun, kehadiran sosok ramah dan murah senyum Maya Rumatir mampu meredupkan luapan hawa panas dari ribuan hati yang paling keras.

*Kapasitas Akademis, Pengalaman Internasional, dan Kepemimpinan Legislatif*

Di samping ketokohannya di dunia seni dan budaya, kredensial kepemimpinan Maya Rumantir sangat solid dan berimbang. Dari sisi latar belakang pendidikan, Maya menempuh studi lanjut hingga meraih gelar doktor dalam bidang administrasi publik dan komunikasi humaniora dari lembaga pendidikan internasional ternama. Kombinasi ilmu administrasi dan komunikasi ini membekalinya dengan pemahaman mendalam mengenai tata kelola pemerintahan yang responsif dan beretika.

Sebagai pendiri dan pemimpin Institut Pengembangan Sumber Daya Manusia (IPSDM) Maya Gita serta Yayasan Maya Bhakti Pertiwi sejak 1989, Maya telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk aksi kemanusiaan, pemberdayaan pemuda, dan diplomasi kebudayaan di kancah global. Pengalaman internasionalnya yang luas memberikan perspektif makro dalam memandang tantangan modernisasi dan globalisasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Di panggung politik formal, keabsahan kepemimpinan dan legitimasi publik Maya Rumantir tidak perlu diragukan. Kepercayaan rakyat Sulawesi Utara kepadanya terbukti sangat tinggi. Terpilih selama tiga periode berturut-turut sebagai Senator DPD RI (2014–2019, 2019–2024, dan 2024–2029) dengan raihan perolehan suara yang amat signifikan, mencapai 394.153 suara pada Pemilu 2024, merupakan bukti otentik atas akseptabilitas dan keandalan integritasnya di mata publik.

*Kelayakan Memimpin Kementerian Strategis*

Melihat rekam jejak, keahlian, dan dedikasi sosialnya, Senator Maya Rumantir sangat matang untuk memimpin portofolio kementerian tertentu di Kabinet Prabowo Subianto, seperti antara lain Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Sebagai figur perempuan yang konsisten memperjuangkan hak-hak keluarga, kesejahteraan anak, dan martabat wanita, Maya memiliki empati sosial yang tinggi dan legitimasi moral untuk mendorong kebijakan yang melindungi serta memperdayakan perempuan Indonesia.

Berdasarkan latar belakang yang sangat matang di bidang seni-budaya, Maya Rumantir dipandang layak untuk menduduki jabatan sebagai Menteri Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pengalamannya sebagai maestro dan pelaku seni tingkat tinggi menjadikannya paham betul anatomi ekonomi kreatif, pelestarian warisan budaya, dan strategi promosi pariwisata berkelas dunia yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal.

Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memerlukan seorang kapten yang mumpuni seperti sosok teladan dari Sulawesi Utara ini. Latar belakangnya dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan kepeduliannya pada pendidikan karakter menjadikan Maya Rumantir sebagai figur yang tepat untuk merancang kurikulum berbasis etika, integritas, dan nilai kebangsaan.

Ditinjau dari perspektif filsafat politik, penunjukan seorang warga negara berintegritas dan berkarakter seperti Maya Rumantir ke dalam jajaran eksekutif memiliki pijakan teoritis yang sangat kuat. Filsuf Pencerahan asal Prancis, Jean-Jacques Rousseau, dalam teorinya mengenai Kontrak Sosial (_Du contrat social_), menyatakan bahwa keabsahan suatu pemerintahan bersumber dari Kehendak Umum (_volonté Générale_).

Pemerintahan yang baik wajib menempatkan individu-individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral untuk mengeksekusi kehendak umum tersebut demi kebaikan bersama (_common good_). Maya Rumantir, melalui dukungan rakyat secara berulang dan rekam jejaknya yang bersih dari cela korupsi, merepresentasikan sosok yang dicintai dan dipercayai oleh masyarakat.

Sementara itu, filsuf dan negarawan Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam karya klasiknya _De Officiis_ (Mengenai Kewajiban), menekankan bahwa kebajikan tertinggi seorang warganegara adalah pengabdian kepada negara (_res publica_). Menurut Cicero, seorang pemimpin yang ideal harus menggabungkan dua hal utama: _honestitas_ (integritas moral dan kehormatan) serta _utilitas_ (kebermanfaatan nyata bagi publik). Penunjukan pejabat publik tidak boleh didasarkan pada bagi-bagi kekuasaan semata, melainkan pada rekam jejak pengabdian yang tulus. Maya Rumantir memenuhi kedua kriteria Cicero ini secara utuh.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya persatuan nasional, penegakan integritas, dan pengabdian tanpa pamrih kepada rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas, pemerintah membutuhkan menteri-menteri yang tidak hanya sekadar pengisi jabatan teknokratis, melainkan pembawa kedamaian, penggerak kebudayaan, dan pengabdi kemanusiaan.

Dr. Maya Olivia Rumantir, M.A., Ph.D. adalah aset bangsa yang nyata. Kombinasi unik antara reputasi seni dan kebudayaan, kapasitas akademik internasional, integritas moral, serta pengalaman legislatif yang teruji menjadikan beliau sosok yang amat layak dan ideal untuk diberi kepercayaan mengemban amanah sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Prabowo Subianto. Kehadirannya di jajaran eksekutif akan menjadi angin segar yang memperkuat kompas moral pemerintahan sekaligus menginspirasi seluruh rakyat Indonesia. (*)

_Penulis adalah Alumnus PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012, Pasca Sarjana bidang Global Ethics dan Applied Ethics dari tiga universitas terkemuka di Eropa (Inggris, Belanda, dan Swedia)_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *