SIDENRENG RAPPANG – LEMKIRA INDONESIA.COM
Di atas kertas, prestasinya lengkap. Di lapangan, buktinya nyata. Tapi di Surat Keputusan (SK), statusnya tetap dikembalikan: dan diganti dengan Plt baru.
Selama menjabat sebagai Pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMK Negeri 1 Sidenreng Rappang, Sudarta, S.Pd., M.Pd berhasil membawa sekolah ini menembus predikat SMK Pusat Keunggulan. Akreditasi A juga berhasil dipertahankan. Rapor Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan lonjakan signifikan, khususnya pada penguatan literasi, numerasi, dan implementasi konsep link and match dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja.
Kepercayaan publik terhadap sekolah juga meningkat pesat. Jumlah peserta didik baru melompat dari angka 800-an menjadi 1.181 murid dalam kurun waktu 3 tahun. Tingkat keterlaksanaan lulusan di dunia kerja juga menunjukkan peningkatan yang positif. Saat ini sekolah bahkan sedang berproses mendapatkan bantuan program Revitalisasi SMK, sertifikasi kompetensi murid, peningkatan sarana prasarana, hingga digitalisasi pembelajaran.
Singkatnya: rumah sudah dibangun, pondasi sudah kuat, penghuninya sudah banyak.
PENGHARGAAN PALING KONSISTEN: SETELAH DIPAKAI DIPULANGKAN
Ironisnya, di tengah semua capaian gemilang tersebut, kebijakan yang diambil justru memutar sang nahkoda kembali ke status yang lama: Sudarta dikembalikan ke sekolah awalnya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas/Hubungan Industri dan digantikan dengan Plt baru.
Padahal secara kinerja, tidak ada catatan merah apapun. Justru semua indikator menunjukkan hasil yang positif – dari akreditasi, jumlah murid, penyerapan lulusan, hingga pelaksanaan program strategis nasional.
“Dengan capaian-capaian tersebut, kami menilai yang bersangkutan layak untuk terus diberi kepercayaan kembali dalam memimpin SMKN 1 Sidenreng Rappang,” begitu bunyi rekomendasi yang beredar di kalangan internal sekolah.
Namun rekomendasi tersebut seolah mentok di meja. Yang keluar tetap adalah keputusan untuk mengembalikannya ke sekolah induk dan menggantinya dengan Plt baru.
“Misi completed = 100%, saya sudah melayani rekan-rekan di SMKN 1 Sidenreng Rappang dan bersama-sama bergerak merebut dan menjaga marwah sekolah ini seperti saat ini. Saatnya saya kembali ke Istri pertama (nada bercanda) di SMKN 5 Sidenreng Rappang sebagai wakasek dan tetap jadi guru,” ujar Sudarta dengan nada ringan, sambil menambahkan, “karena Ibu mertua sepertinya memberikan talak (dengan tertawa), dan mari kita dukung penuh Plt baru untuk terus berkarya.”
LOGIKA TERBALIK BIROKRASI
Di dunia pendidikan vokasi kita diajarkan konsep link and match – link ke industri, match ke kebutuhan. Namun di internal manajemen pendidikan, yang terjadi justru sebaliknya: link ke prestasi, mismatch ke kebijakan.
Guru-guru di sekolah menyebutkan kondisi ini sebagai “sindrom arsitek” – selesai membangun, lalu disuruh jaga. Selesai menata, lalu dipindahkan. Selesai panen, lalu diganti.
Seorang tenaga pendidik berkomentar lirih: “Pak, ini sekolah kita sekarang sudah level Pusat Keunggulan. Sayangnya kepemimpinannya masih level ‘keunggulan sementara’.”
YANG TARUHANNYA BESAR: MURID DAN INDUSTRI
SMK Pusat Keunggulan bukan predikat kaleng-kaleng. Ada target yang harus dicapai, ada dana yang dikelola, ada pengawasan yang ketat, dan ada ekspektasi dari dunia industri. Program revitalisasi dan sertifikasi kompetensi juga membutuhkan komando yang stabil, bukan transisi yang terus-menerus.
Industri yang sudah menjalin Perjanjian Kerjasama (MoU) dengan sekolah membutuhkan kepastian siapa mitra jangka panjangnya. Orang tua yang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya juga membutuhkan kepastian siapa yang akan menuntaskan program pendidikan selama 3 tahun ke depan.
Jika estafet Plt terus berlanjut, dikhawatirkan momentum yang sudah berhasil dibangun akan kehilangan arah dan bahkan mengalami kemunduran.
SMKN 1 Sidenreng Rappang yang dinahkodai Sudarta telah membuktikan bisa naik kelas. Pertanyaannya sekarang: apakah sistem manajemen pendidikan juga mau naik kelas?
Sudah saatnya prestasi dibayar dengan kepastian, bukan dengan surat tugas baru bertuliskan “sementara”. Karena sekolah ini butuh pemimpin yang stabil – bukan pemimpin yang prestasinya permanen, tapi jabatannya sementara.(Tim/Red)
#Kepemimpinan Sekolah #PLt yang di Pltkan#













