Ekonomi

GMNI FMIPA UNESA SOROTI DAMPAK KENAIKAN HARGA PERTAMAX DALAM DISKUSI PUBLIK , KAMISMARHAENIS

0
×

GMNI FMIPA UNESA SOROTI DAMPAK KENAIKAN HARGA PERTAMAX DALAM DISKUSI PUBLIK , KAMISMARHAENIS

Sebarkan artikel ini

Surabaya, Lemkira Indonesia.Com

11 Juni 2026 – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar diskusi publik pada hari Kamis (11/6/2026) dengan fokus membahas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan stabilitas fiskal negara.

Kegiatan yang diikuti oleh kader dan mahasiswa FMIPA UNESA menjadi ruang dialog untuk mengkaji berbagai implikasi kebijakan energi yang tengah menjadi sorotan publik. GMNI FMIPA UNESA menilai bahwa kebijakan kenaikan harga Pertamax memiliki konsekuensi yang perlu dicermati secara komprehensif dari berbagai sisi.

DAMPAK POSITIF TERHADAP FISKAL, NAMUN PERLU PERHATIAN TERHADAP MASYARAKAT

Dari sisi fiskal, GMNI FMIPA UNESA memandang bahwa kenaikan harga Pertamax dapat memberikan dampak positif terhadap pengelolaan anggaran negara. Berkurangnya tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di sektor energi dinilai dapat membuka ruang lebih besar bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pada program pembangunan dan kebutuhan publik lainnya.

Namun demikian, mereka juga menyoroti dampak yang berpotensi dirasakan masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang menggunakan Pertamax untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Kenaikan harga BBM dinilai dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga dan mengurangi alokasi anggaran untuk kebutuhan kesejahteraan keluarga.

Ketua Komisariat GMNI FMIPA UNESA, Adamas Hafizh Addin, S.Pd., menyampaikan bahwa kebijakan energi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan fiskal negara dan kemampuan ekonomi masyarakat.

“Kenaikan harga Pertamax memang dapat membantu mengurangi beban APBN. Namun di sisi lain, masyarakat kelas menengah berpotensi menghadapi peningkatan pengeluaran yang cukup signifikan karena kebutuhan transportasi merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Selain itu, GMNI FMIPA UNESA juga mengingatkan potensi peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite apabila selisih harga kedua jenis BBM semakin lebar. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan permintaan Pertalite secara signifikan dan berpotensi memengaruhi stabilitas distribusi BBM di berbagai sektor.

“Jika perpindahan pengguna terjadi secara masif, permintaan Pertalite dapat meningkat tajam. Hal ini perlu menjadi perhatian agar distribusi dan ketersediaan BBM tetap terjaga bagi masyarakat yang menjadi sasaran pengguna Pertalite,” tambah Adamas.

PERLU KESEIMBANGAN ANTARA FISKAL NEGARA DAN DAYA KONSUMSI MASYARAKAT

Sementara itu, anggota Bidang Sosial, Politik, dan Budaya GMNI FMIPA UNESA, Bung Reza, menekankan bahwa persoalan utama bukan semata-mata terletak pada naik atau turunnya harga BBM, melainkan pada kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal negara dan daya konsumsi masyarakat.

“Menurut saya, yang terpenting bukan sekadar naik turunnya harga BBM, melainkan bagaimana pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal dan konsumsi masyarakat. Transparansi dalam pengambilan kebijakan serta komunikasi yang baik menjadi faktor penting agar setiap kebijakan dapat dipahami secara lebih rasional,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa kualitas komunikasi pemerintah merupakan salah satu instrumen penting dalam kebijakan ekonomi. Menurutnya, pernyataan pejabat publik yang terkesan meremehkan risiko dapat memperburuk sentimen pasar dan mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat maupun pelaku ekonomi.

“Kenaikan harga BBM ataupun pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dipandang semata-mata sebagai dampak konflik Timur Tengah. Besarnya pengaruh yang dirasakan akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat fundamental ekonomi domestik dan seberapa tinggi kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi nasional,” lanjut Reza.

Melalui diskusi tersebut, GMNI FMIPA UNESA berharap kebijakan energi yang diterapkan pemerintah dapat memperhatikan berbagai aspek secara seimbang, baik dari sisi keberlanjutan fiskal negara maupun perlindungan terhadap daya beli masyarakat. GMNI FMIPA UNESA juga menegaskan pentingnya pelibatan berbagai elemen masyarakat dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.( Red)

#Narahubung.Padly #

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *