ArtikelBudayaPendidikan

DARI SANGGAR KE KAMPUS: MODEL KOLABORASI PELESTARIAN BOSARA OLEH TIM DOSEN DAN SANGGAR SENI KATANGKA

35
×

DARI SANGGAR KE KAMPUS: MODEL KOLABORASI PELESTARIAN BOSARA OLEH TIM DOSEN DAN SANGGAR SENI KATANGKA

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd

Makassar – Lemkira.Com

Tari Bosara bukan sekadar tarian penyambutan biasa. Ia adalah bahasa tubuh masyarakat Makassar yang sarat makna tentang penghormatan, kerendahan hati, dan kebersamaan. Dilakukan di hadapan piring berisi kue-kue tradisional khas Bugis-Makassar sebagai sajian adat, setiap gerakannya menyimpan nilai-nilai adab yang telah dijaga dan diwariskan oleh para perempuan Makassar selama beratus-ratus tahun. Pertanyaan besarnya kini: di tengah derasnya arus budaya populer dan kesibukan dunia akademik, siapa yang akan memastikan Bosara tetap hidup dan tidak hanya menjadi pajangan mati di museum?

Jawabannya terwujud dalam sebuah model kerja sama yang sederhana namun kokoh: kolaborasi antara dunia kampus dan sanggar seni. Pendekatan inilah yang saat ini sedang dijalankan dalam pembelajaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik (Sendratasik). Kegiatan ini digawangi oleh Tim Pelaksana yang diketuai oleh Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd., beranggotakan Prof. Dr. Jamilah, M.Sn, dan Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd., bersama pelatih Ibu Bau Salawati, S.Pd., M.Sn, serta pakar tari tradisi Sulawesi Selatan sekaligus pendiri Sanggar Seni Katangka, Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd.

Tulisan ini ingin menegaskan satu hal penting: pelestarian seni tradisi tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Kampus membutuhkan sanggar, dan sanggar pun memerlukan kampus. Di sinilah mahasiswa Sendratasik berdiri sebagai jembatan penghubung yang vital.

Bosara: Warisan Budaya yang Butuh Ruang Hidup

Kita sering mendengar istilah “pelestarian budaya”. Namun, melestarikan tidak sama dengan membekukan. Bosara akan mati jika hanya diajarkan lewat materi presentasi atau video di YouTube. Bosara tetap hidup ketika ada keringat yang menetes di lantai latihan, ada teguran lembut saat gerakan tangan dianggap kurang anggun, ada tawa ketika mahasiswa salah langkah lalu berusaha bangkit kembali, serta ketika disiplin diterapkan sesuai kaidah gerak yang diwariskan.

Di sinilah letak peran vital Sanggar Seni Katangka milik Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd. Sanggar adalah rumah kedua bagi seni. Tempat ini tidak menuntut nilai IPK, tetapi menuntut kedisiplinan hati. Di sini tidak ada penilaian berupa angka, tetapi yang dibentuk adalah nilai rasa dan penghayatan. Di Sanggar Katangka, mahasiswa belajar bahwa menari Bosara sejatinya adalah belajar menghormati tamu, belajar menjaga kekompakan dalam barisan, dan belajar menahan ego demi menciptakan keindahan bersama. Tanpa kehadiran sanggar, kampus hanya akan memiliki teori, dan teori tanpa praktik adalah ilmu yang kering dan tak bernyawa.

Kampus: Memberi Arah, Riset, dan Panggung

Di sisi lain, berdiri sendiri pun sanggar tidaklah cukup. Sanggar memerlukan penguatan akademik agar tidak terjebak dalam rutinitas yang berhenti pada gerakan saja, tanpa pemahaman mendalam. Inilah peran besar Tim Pelaksana dari Sendratasik: Prof. Dr. Jamilah, M.Sn, Nurachmy Sahnir, M.Pd, dan Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd.

Prof. Dr. Jamilah, M.Sn, dengan keilmuan dan wibawanya, memastikan bahwa Bosara diajarkan dengan landasan sejarah dan antropologi yang benar. Mahasiswa tidak hanya sekadar pandai bergerak, tetapi mereka paham alasan di balik gerakan tersebut: mengapa konsep Bosara digunakan, mengapa pandangan mata harus mengikuti gerakan tangan, dan mengapa iringan gendang memiliki pola ritme tertentu.

Sementara itu, Ibu Nurachmy Sahnir menyusun kerangka kurikulum. Ia merancang Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan sistem penilaian, sehingga Bosara tidak lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler yang bisa ditinggal kapan saja, melainkan masuk menjadi mata kuliah praktik yang sah. Ia pun membuka jalan bagi mahasiswa untuk tampil di berbagai panggung, baik melalui pertunjukan, seminar, maupun program pengabdian masyarakat. Sebab, tarian tanpa penonton akan kehilangan nyawanya sendiri.

Melalui peran ini, kampus memberikan legitimasi dan penghargaan. Kampus mengangkat derajat Bosara: dari sekadar kegiatan komunitas menjadi materi kajian ilmiah yang terstruktur.

Di antara kedua kekuatan besar ini, terdapat dua figur yang menjadi jantung dari proses pewarisan ilmu ini: Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd dan Ibu Bau Salawati, M.Sn.

Ibu Bau Salawati, M.Sn bertindak sebagai pelatih utama. Beliau tidak hanya mengajari hitungan gerakan satu sampai delapan, tetapi mengajarkan kesabaran dan penghayatan. Nasihatnya sering terdengar, “Tanganmu jangan kaku, nak. Bayangkan kamu sedang menyambut ibumu sendiri dengan penuh kasih sayang.”

Sementara itu, Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd adalah pewaris murni gerakan tersebut. Apa yang beliau ajarkan sulit ditemukan di dalam buku, karena tersimpan dalam ingatan otot, pola napas, dan ketajaman rasa seni yang beliau miliki—terutama saat beliau memandu mahasiswa yang mulai putus asa dalam belajar. Model kolaborasi ini tidak akan berhasil tanpa kehadiran pelatih yang mau turun langsung ke lantai, berkeringat, dan berjuang bersama mahasiswa, seperti yang dilakukan Ibu Maryam dibantu oleh Ibu Bau Salawati.

Lalu, untuk siapa semua usaha besar ini dilakukan? Jawabannya jelas: untuk mahasiswa Sendratasik.

Mereka bukan sekadar objek pembelajaran, melainkan subjek pelestarian. Di tangan merekalah, Bosara akan dibawa berkeliling: ke sekolah-sekolah, ke pesta pernikahan, ke festival tingkat nasional, hingga ke panggung internasional.

Ada dampak menarik yang terlihat setelah mengikuti model kolaborasi ini: banyak mahasiswa mengalami perubahan pandangan. Awalnya ada rasa malu karena dianggap “tari kampung”, namun berubah menjadi rasa bangga yang tinggi. Mereka mulai bertanya, “Bu, berapa jumlah kue yang seharusnya ada di dalam piring Bosara?” atau “Bu, kenapa gerakan sembahnya memiliki bentuk seperti ini?”. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu adalah tanda keberhasilan pelestarian. Artinya, mereka tidak lagi sekadar menghafal gerakan, melainkan kesadaran budaya telah tumbuh di dalam diri mereka.

Tentu saja, perjalanan ini tidak selamanya mulus. Ada tantangan jadwal yang sering kali berbenturan antara kuliah dan waktu latihan di sanggar. Ada kendala pendanaan untuk pembuatan kostum dan peralatan. Ada pula tantangan stigma zaman: “Ngapain belajar tari lama, mending belajar K-Pop saja.”

Namun, justru di situlah letak kekuatan kolaborasi ini. Kampus dapat menyediakan bobot SKS dan akses dana hibah. Sanggar menyediakan tempat latihan dan tenaga pelatih. Dosen melakukan penelitian dan mempublikasikan nilai budayanya. Jika disatukan, beban tantangan yang berat itu akan terasa jauh lebih ringan.

Ke depannya, model kolaborasi “Dari Sanggar ke Kampus” ini harus diperluas jangkauannya. Tidak hanya untuk Bosara, tetapi juga untuk Tari Pakarena, Tari Pajaga, dan berbagai seni tradisi lisan lainnya. Kuncinya hanya satu: jangan pernah memisahkan akademisi dari pelaku tradisi.

Pelestarian budaya bukanlah tugas tunggal Dinas Kebudayaan. Bukan pula tugas sanggar semata. Pelestarian adalah kerja sama, tanggung jawab bersama.

Hari ini kita patut bersyukur, karena di Makassar hadir sosok Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd yang dengan ikhlas membuka pintu sanggarnya untuk generasi muda. Ada Ibu Bau Salawati, M.Sn yang dengan sabar menurunkan seluruh ilmunya. Ada pula Prof. Jamilah, Nurachmy Sahnir, dan Dr. Sri Darmawati yang menjembatani kekayaan tradisi ini masuk ke dalam kurikulum kampus.

Jika pola kerja sama ini terus dijaga dan dikembangkan, maka sepuluh tahun dari sekarang, ketika ada tamu datang berkunjung ke Makassar, yang menyambut mereka bukan sekadar ucapan lisan “selamat datang”. Melainkan, ada ayunan tangan yang lembut, langkah yang anggun, dan piring Bosara yang diangkat tinggi dengan penuh rasa hormat oleh para mahasiswa Sendratasik.

Karena pada hakikatnya, melestarikan Bosara berarti melestarikan cara kita menghormati satu sama lain. Dan nilai luhur itu, haruslah dimulai dari kampus.(RR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *